Wednesday, May 2, 2012

Cerpen Bahasa Indonesia!


Bonsoir! :D

Post ini berisi tentang.... ya seperti judulnya lah. Cerpen. 
Cerpen ini gue buat dalam rangka tugas bahasa Indonesia dari  Bu Guru tercinta :*

Judul Cerpen : Bianglala
Tema : Pengalaman ( hehehe :p)


Kenapa bianglala?

Soalnya bianglala mengajarkan kita bahwa hidup itu tidak selamanya diatas. Kita akan berputar. Suatu saat posisi di paling bawah. Suatu saat di posisi paling atas. Ngerti engga?

Kalau engga ngerti.... baca aja ceritanya hohoho.
Semoga memberi inspirasi dan pencerahan! Amiiin

          
Bianglala

  Hidup ini seperti bianglala. Itulah nasihat  yang terlontar dari mulut Ibuku malam ini.
            Dulu, bianglala adalah salah satu permainan di taman hiburan yang selalu kuhindari. Permainan itu selalu berhasil membuatku mual dan pusing. Tetapi sekarang aku sudah terbiasa menaiki bianglala. Kenapa? Karena jika aku dan Ibu menaiki bianglala, kami punya banyak waktu untuk menceritakan tentang banyak hal, misalnya berapa tinggi bianglala, siapa pencipta bianglala, dan sebagainya. Hal itu membuat rasa mualku hilang. Aneh, memang. Tapi aku menikmati saat saat seperti itu. Yaitu, saat-saat aku bisa berbincang bersama Ibu, tanpa gangguan orang lain.
            Seperti malam ini. Aku dan Ibu menaiki bianglala bersama, sedangkan adik laki lakiku dan Ayah mencari gerai es krim di sekitar taman hiburan. Ibu bercerita seputar kehidupan masa mudanya. Aku mendengarkan setiap kisahnya dengan seksama, dan berusaha mengambil nilai nilai dari tiap perkataannya yang sarat oleh makna. Tapi aku masih belum mengerti salah satu perkataannya. Hidup ini seperti bianglala. Mengapa bianglala, bukannya kuda kudaan atau roller coaster?
***
            Pagi ini, suasana kelas masih sepi. Udara pagi hari menusuk tulangku. Aku sengaja datang 40 menit sebelum pelajaran dimulai. Sambil mengisi waktu, aku mengerjakan tugas yang belum aku selesaikan dirumah. Beberapa menit kemudian, aku mendengar derap kaki tergesa-gesa yang mengarah ke kelas. Firasat buruk, pikirku.
            Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dan membelah langit dari ambang pintu. “Haloooooo? Wah Risma! Tumben datang pagi!” Aku tersentak kaget. Lina, yang biasanya datang siang, hari ini juga datang lebih cepat dari biasanya. Kenapa harus bertemu dia, sih? Aku masih membutuhkan ketenangan disini.
            “Pinjam PR Bahasa Indonesia dong!” ujarnya tanpa basa basi sambil menghampiriku.
            “Tapi PRku belum selesai. Baru sampai nomor 8 dari 10 nomor.” jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Dia duduk di bangku, didepan mejaku. Jangan lagi!
            “Tapi setidaknya kan sudah ada yang dikerjakan. Aku belum sama sekali nih. Tadi malam ketiduran pas lagi nonton film..”

            “Tapi aku belum sele.....” belum aku menyelesaikan kalimat, dengan mudahnya ia menarik buku Bahasa Indonesia dari tanganku. Tuh kan, kebiasaan jeleknya muncul. Ia selalu memaksa. Selalu begitu. Apa yang dia minta, harus ia dapatkan. Aku hanya bisa menghela nafas.
            Tiba tiba terdengar lagi langkah kaki yang menghampiri kelas, dan seseorang membuka pintu “Hai Ris! Tumben pagi pagi udah datang. Kesambet ya? Hahaha.” Ah itu Syifa! Syukurlah dia datang. Tapi saat melihat Lina, langkahnya terhenti, dan dia melihat ke arahku. “Dia lagi?” bisiknya. “Ya... lihat saja sendiri.” jawabku dengan pasrah.
            Ya, Lina dan sifat buruknya memang bukan lagi hal baru di kelas kami, itu semua sudah menjadi rahasia umum. Dan hal yang membuatku kesal adalah, sejak sebulan terakhir ini, Lina selalu mendekatiku. Awalnya aku merasa biasa saja, tetapi lama kelamaan dia semakin menjengkelkan. Dia sealu memaksaku untuk melakukan perintahnya. Dan sayangnya, aku tidak bisa menolak. Kalau dalam ilmu Biologi, dia itu seperti parasit.
            Dan karena Lina mendekatiku, banyak teman yang mulai pergi menjauh dariku. Mereka tidak ingin dijadikan ‘tumbal’ oleh Lina. Mereka meninggalkanku sendirian. Hanya beberapa teman yang masih peduli padaku. Diantaranya adalah Syifa. Dia adalah teman yang sangat baik.
            “Ih, lebih baik aku tidak punya teman sama sekali, daripada harus didekati dia. Hahahaha.” Silva, sang Ratu Gosip dikelas berujar padaku. “Sabar ya, Ris.” Ucapnya dengan pandangan kurang menyenangkan. Huh, ucapannya sama sekali tidak terdengar sebagai tanda keprihatinan. Pergi sana! Rasanya ingin aku lempar busur dan jangka ini ke muka Silva sekarang juga. Tapi, aku tidak ingin masuk ke daftar Black List Bu Salimah, guru matematika kelas kami.
            “Kenapa kamu enggak bisa menolak, sih?” tanya Syifa padaku saat jam istirahat sekolah. Ini bukan pertama kalinya ia bertanya padaku tentang hal yang sama. Aku juga selalu memikirkan hal ini, dan tidak pernah mendapat jalan keluarnya.
            “Dia terlalu baik, Fa.” sahut Amel, yang dudul disebelah Syifa, sambil memakan roti coklatnya.
            “Tapi kalau begitu caranya, masalah ini enggak akan selesai, kan?” tanya Syifa kembali. Nada suaranya terdengar meninggi “Aku enggak suka melihat orang semena-mena seperti Lina. Jangan mau dijadikan budaknya, Ris.
            “Iya, dia tuh seperti Fir’aun yang nyuruh kamu membangun piramida buat dia sendiri. Dia pikir gampang apa?! Piramida kan gede banget.” Amel mulai berimajinasi seputar peninggalan-peninggalan Mesir Kuno yang baru di ulangankan tadi pagi. Aku dan Syifa hanya bisa bertukar pandang sambil tersenyum.
            “Piramida? Hahahaha. Kayaknya kamu kebanyakan makan roti coklat hari ini, Mel.” Akupun tertawa mendengar imajinasi Amel yang memang diluar batas nalar manusia biasa.
            “Iya Ris. Tapi bedanya, yang ini bukan piramida batu, tapi piramida PR dan tugas-tugas.” Sambung Syifa tiba-tiba. Kami bertiga tergelak.
            “Eh, serius nih... Lalu menurut kalian, aku harus bagaimana?” tanyaku meminta saran. Kepalaku sudah cukup pusing setelah pelajaran Fisika tadi.
            “Ya kamu harus tegas ke Lina, Ris. Jangan mau diperalat terus.” ujar Amel.
            “Tapi aku enggak bisa, aku..”
            “Kamu harus yakin Ris! Pasti kamu bisa!” Syifa mendukung pendapat Amel.
            Aku menggeleng, kemudian melangkah pergi menjauhi Syifa dan Amel. Bicara sih gampang, tapi menerapkannya sangat sulit dan tidak semudah kelihatannya. Ya kan? Lebih baik aku selesaikan masalah ini sendirian saja.
 Tidak tega. Inilah sifatku yang paling buruk, yang membuatku sering diperalat oleh orang lain, bukan hanya oleh Lina. Semua itu didasari oleh rasa takut. Jika aku menolak, bisa saja dia akan melakukan sesuatu yang buruk. Aku takut dianggap sebagai orang yang pelit dan tidak bisa diandalkan oleh teman temanku. Aku selalu berpikir terlalu jauh dan berlebihan.
Minggu berikutnya, Ibuku mengajak aku untuk pergi ke taman hiburan lagi. Seperti biasa, kami berdua menaiki bianglala. Namun sayangnya, saat itu mood ku sedang kacau. Aku tidak mengomentari keadaan taman hiburan di malam hari itu seperti yang biasanya aku lakukan. Ibu memperhatikanku dengan pandangan sedih dan pandangan ingin tahu sekaligus.
“Kamu kenapa Ris? Akhir akhir ini kelihatan sedih.” Tanya Ibu lembut. Akupun langsung meluapkan semua perasaan sedihku kepada Ibu, karena saat ini aku sedang membutuhkan saran dari orang lain. Beliau pun mendengarkannya dengan perhatian penuh sambil membelai rambutku. Beliau memandang ke arah luar bianglala sambil tersenyum.
“Saat seumur kamu, Ibu juga pernah mengalami hal yang serupa. Ibu menangis dan bertanya terus menerus kepada Nenek ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Nenek tidak dapat membantu Ibu, Ris. Tetapi Ibu lah yang harus bisa menyelesaikan masalah Ibu sendiri. Nenek berkata, ‘Suatu hari nanti, kamu akan hidup tanpa Ibu, dan kamu akan menemukan masalah yang lebih rumit dari masalahmu saat ini. Kamu harus belajar menyelesaikan masalah-masalah itu sendiri, agar kelak kamu terbiasa menghadapi masalah masalah lainnya, yang lebih berat. Cuma itu yang bisa Ibu beritahukan kepadamu.’ ” Ucap Ibu sambil menatap wajahku.
Lalu Ibu melanjutkan, “Nak, jalannya hidup kita itu berputar, seperti bianglala ini. Ada kalanya kamu berada diatas, yaitu saat semuanya terlihat sempurna dan berjalan dengan baik. Tetapi, akan ada saatnya kamu berada di posisi bawah, yaitu saat segala sesuatu terlihat tidak berjalan sesuai dengan yang kamu harapkan. Contohnya adalah saat ini. Kamu didekati oleh orang yang bersifat jelek, dijauhi teman temanmu, dan sebagainya. Yang harus kamu lakukan adalah mengambil sisi positif dari setiap kejadian yang menimpamu.”
“Contohnya, saat kamu didekati Lina, banyak teman-teman menjauhimu. Hanya ada beberapa dari mereka yang masih peduli. Dengan begitu, kamu bisa melihat siapakah temanmu yang sesungguhnya. Teman yang selalu ada untukmu, disaat senang maupun susah.” Aku langsung teringat kepada Syifa dan Amel. Aku sudah berbuat jahat kepada mereka. Padahal mereka hanya mencoba menyemangati dan mencoba membantu menyelesaikan masalahku. Tapi aku malah pergi menjauhi mereka berdua.
“Tetapi ingat, saat kamu mulai beranjak menuju posisi atas kembali, jangan melupakan pelajaran yang sudah kamu dapatkan saat posisimu ada dibawah.” Tambah Ibu, sambil menyodorkan es krim coklat yang sedari tadi aku acuhkan.
Kini, aku mengerti apa yang dimaksud oleh Ibu. Beliau ingin aku menjadi dewasa dan bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku memeluk Ibu penuh rasa kasih sayang. “Terima kasih, bu.” bisikku. Sekarang aku sudah menemukan solusi dari masalahku.
***
Esoknya, Lina kembali menghampiriku dan meminjam PR ku lagi. Tapi sekarang, aku sudah bisa mengikhlaskannya. Biarkan saja ia mencontek, karena hal itu hanya akan membawa dampak buruk bagi dirinya sendiri. Suatu saat nanti, dia akan merasakan akibatnya, cepat ataupun lambat. Yang bisa kulakukan hanyalah bersabar dan mencoba menegurnya sedikit demi sedikit.
Perlahan-lahan Lina tidak mendekatiku lagi. Sekarang ia mulai mendekati temanku yang lain. Dia mulai mendekati Silva. Aku ingin tahu, apa Silva bisa tahan berdekatan dengan Lina. Semoga saja Silva insaf, pikirku.
            Aku juga sudah minta maaf kepada Syifa dan Amel. Sekarang kami jadi makin akrab. Kami saling melengkapi satu sama lain. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikanku Ibu dan teman yang sangat baik. Semoga aku bisa melewati berbagai tantangan yang akan kutemui kelak.

-tamat- 


Gimana cerpennya? Hahaha :D


Btw, di akhir lembar cerpen gue, Bu Guru (guru ppl) ngasih komentar :



Semoga, semangat :D



*hening*



Maksudnya apa?!

No comments:

Post a Comment