Bonsoir! :D
Post ini berisi tentang.... ya seperti judulnya lah. Cerpen.
Cerpen ini gue buat dalam rangka tugas bahasa Indonesia dari Bu Guru tercinta :*
Judul Cerpen : Bianglala
Tema : Pengalaman ( hehehe :p)
Kenapa bianglala?
Soalnya bianglala mengajarkan kita bahwa hidup itu tidak selamanya diatas. Kita akan berputar. Suatu saat posisi di paling bawah. Suatu saat di posisi paling atas. Ngerti engga?
Kalau engga ngerti.... baca aja ceritanya hohoho.
Semoga memberi inspirasi dan pencerahan! Amiiin
Bianglala
Hidup ini
seperti bianglala. Itulah nasihat yang terlontar
dari mulut Ibuku malam ini.
Dulu,
bianglala adalah salah satu permainan di taman hiburan yang selalu kuhindari.
Permainan itu selalu berhasil membuatku mual dan pusing. Tetapi sekarang aku
sudah terbiasa menaiki bianglala. Kenapa? Karena jika aku dan Ibu menaiki
bianglala, kami punya banyak waktu untuk menceritakan tentang banyak hal,
misalnya berapa tinggi bianglala, siapa pencipta bianglala, dan sebagainya. Hal
itu membuat rasa mualku hilang. Aneh, memang. Tapi aku menikmati saat saat
seperti itu. Yaitu, saat-saat aku bisa berbincang bersama Ibu, tanpa gangguan
orang lain.
Seperti
malam ini. Aku dan Ibu menaiki bianglala bersama, sedangkan adik laki lakiku dan
Ayah mencari gerai es krim di sekitar taman hiburan. Ibu bercerita seputar
kehidupan masa mudanya. Aku mendengarkan setiap kisahnya dengan seksama, dan
berusaha mengambil nilai nilai dari tiap perkataannya yang sarat oleh makna. Tapi
aku masih belum mengerti salah satu perkataannya. Hidup ini seperti bianglala. Mengapa bianglala, bukannya kuda
kudaan atau roller coaster?
***
Pagi
ini, suasana kelas masih sepi. Udara pagi hari menusuk tulangku. Aku sengaja datang
40 menit sebelum pelajaran dimulai. Sambil mengisi waktu, aku mengerjakan tugas
yang belum aku selesaikan dirumah. Beberapa menit kemudian, aku mendengar derap
kaki tergesa-gesa yang mengarah ke kelas. Firasat
buruk, pikirku.
Tiba-tiba
terdengar suara menggelegar dan membelah langit dari ambang pintu. “Haloooooo? Wah
Risma! Tumben datang pagi!” Aku tersentak kaget. Lina, yang biasanya datang siang,
hari ini juga datang lebih cepat dari biasanya. Kenapa harus bertemu dia, sih? Aku masih membutuhkan ketenangan disini.
“Pinjam
PR Bahasa Indonesia dong!” ujarnya tanpa basa basi sambil menghampiriku.
“Tapi
PRku belum selesai. Baru sampai nomor 8 dari 10 nomor.” jawabku tanpa menoleh
ke arahnya. Dia duduk di bangku, didepan mejaku. Jangan lagi!
“Tapi
setidaknya kan sudah ada yang dikerjakan. Aku belum sama sekali nih. Tadi malam
ketiduran pas lagi nonton film..”
“Tapi
aku belum sele.....” belum aku menyelesaikan kalimat, dengan mudahnya ia
menarik buku Bahasa Indonesia dari tanganku. Tuh kan, kebiasaan jeleknya muncul. Ia selalu memaksa. Selalu
begitu. Apa yang dia minta, harus ia dapatkan. Aku hanya bisa menghela nafas.
Tiba
tiba terdengar lagi langkah kaki yang menghampiri kelas, dan seseorang membuka
pintu “Hai Ris! Tumben pagi pagi udah datang. Kesambet ya? Hahaha.” Ah itu Syifa! Syukurlah dia datang. Tapi
saat melihat Lina, langkahnya terhenti, dan dia melihat ke arahku. “Dia lagi?”
bisiknya. “Ya... lihat saja sendiri.” jawabku dengan pasrah.
Ya,
Lina dan sifat buruknya memang bukan lagi hal baru di kelas kami, itu semua
sudah menjadi rahasia umum. Dan hal yang membuatku kesal adalah, sejak sebulan
terakhir ini, Lina selalu mendekatiku. Awalnya aku merasa biasa saja, tetapi
lama kelamaan dia semakin menjengkelkan. Dia sealu memaksaku untuk melakukan
perintahnya. Dan sayangnya, aku tidak bisa menolak. Kalau dalam ilmu Biologi,
dia itu seperti parasit.
Dan
karena Lina mendekatiku, banyak teman yang mulai pergi menjauh dariku. Mereka
tidak ingin dijadikan ‘tumbal’ oleh Lina. Mereka meninggalkanku sendirian.
Hanya beberapa teman yang masih peduli padaku. Diantaranya adalah Syifa. Dia
adalah teman yang sangat baik.
“Ih,
lebih baik aku tidak punya teman sama sekali, daripada harus didekati dia.
Hahahaha.” Silva, sang Ratu Gosip dikelas berujar padaku. “Sabar ya, Ris.”
Ucapnya dengan pandangan kurang menyenangkan. Huh, ucapannya sama sekali tidak terdengar sebagai tanda keprihatinan.
Pergi sana! Rasanya ingin aku lempar busur dan jangka ini ke muka Silva
sekarang juga. Tapi, aku tidak ingin masuk ke daftar Black List Bu Salimah, guru matematika kelas kami.
“Kenapa
kamu enggak bisa menolak, sih?” tanya Syifa padaku saat jam istirahat sekolah.
Ini bukan pertama kalinya ia bertanya padaku tentang hal yang sama. Aku juga selalu
memikirkan hal ini, dan tidak pernah mendapat jalan keluarnya.
“Dia
terlalu baik, Fa.” sahut Amel, yang dudul disebelah Syifa, sambil memakan roti
coklatnya.
“Tapi
kalau begitu caranya, masalah ini enggak akan selesai, kan?” tanya Syifa
kembali. Nada suaranya terdengar meninggi “Aku enggak suka melihat orang semena-mena
seperti Lina. Jangan mau dijadikan budaknya,
Ris. ”
“Iya,
dia tuh seperti Fir’aun yang nyuruh
kamu membangun piramida buat dia sendiri. Dia pikir gampang apa?! Piramida kan gede banget.” Amel mulai berimajinasi
seputar peninggalan-peninggalan Mesir Kuno yang baru di ulangankan tadi pagi.
Aku dan Syifa hanya bisa bertukar pandang sambil tersenyum.
“Piramida?
Hahahaha. Kayaknya kamu kebanyakan makan roti coklat hari ini, Mel.” Akupun
tertawa mendengar imajinasi Amel yang memang diluar batas nalar manusia biasa.
“Iya
Ris. Tapi bedanya, yang ini bukan piramida batu, tapi piramida PR dan
tugas-tugas.” Sambung Syifa tiba-tiba. Kami bertiga tergelak.
“Eh,
serius nih... Lalu menurut kalian, aku harus bagaimana?” tanyaku meminta saran.
Kepalaku sudah cukup pusing setelah pelajaran Fisika tadi.
“Ya
kamu harus tegas ke Lina, Ris. Jangan mau diperalat terus.” ujar Amel.
“Tapi
aku enggak bisa, aku..”
“Kamu
harus yakin Ris! Pasti kamu bisa!” Syifa mendukung pendapat Amel.
Aku
menggeleng, kemudian melangkah pergi menjauhi Syifa dan Amel. Bicara sih gampang, tapi menerapkannya
sangat sulit dan tidak semudah kelihatannya. Ya kan? Lebih baik aku
selesaikan masalah ini sendirian saja.
Tidak tega. Inilah sifatku yang paling buruk,
yang membuatku sering diperalat oleh orang lain, bukan hanya oleh Lina. Semua
itu didasari oleh rasa takut. Jika aku menolak, bisa saja dia akan melakukan
sesuatu yang buruk. Aku takut dianggap sebagai orang yang pelit dan tidak bisa
diandalkan oleh teman temanku. Aku selalu
berpikir terlalu jauh dan berlebihan.
Minggu berikutnya, Ibuku mengajak aku
untuk pergi ke taman hiburan lagi. Seperti biasa, kami berdua menaiki
bianglala. Namun sayangnya, saat itu mood
ku sedang kacau. Aku tidak mengomentari keadaan taman hiburan di malam hari itu
seperti yang biasanya aku lakukan. Ibu memperhatikanku dengan pandangan sedih
dan pandangan ingin tahu sekaligus.
“Kamu kenapa Ris? Akhir akhir ini
kelihatan sedih.” Tanya Ibu lembut. Akupun langsung meluapkan semua perasaan
sedihku kepada Ibu, karena saat ini aku sedang membutuhkan saran dari orang
lain. Beliau pun mendengarkannya dengan perhatian penuh sambil membelai
rambutku. Beliau memandang ke arah luar bianglala sambil tersenyum.
“Saat seumur kamu, Ibu juga pernah
mengalami hal yang serupa. Ibu menangis dan bertanya terus menerus kepada Nenek
‘Apa yang harus aku lakukan?’ Nenek tidak dapat membantu Ibu, Ris. Tetapi Ibu
lah yang harus bisa menyelesaikan masalah Ibu sendiri. Nenek berkata, ‘Suatu
hari nanti, kamu akan hidup tanpa Ibu, dan kamu akan menemukan masalah yang
lebih rumit dari masalahmu saat ini. Kamu harus belajar menyelesaikan masalah-masalah
itu sendiri, agar kelak kamu terbiasa menghadapi masalah masalah lainnya, yang
lebih berat. Cuma itu yang bisa Ibu beritahukan kepadamu.’ ” Ucap Ibu sambil menatap
wajahku.
Lalu Ibu melanjutkan, “Nak, jalannya
hidup kita itu berputar, seperti bianglala ini. Ada kalanya kamu berada diatas,
yaitu saat semuanya terlihat sempurna dan berjalan dengan baik. Tetapi, akan
ada saatnya kamu berada di posisi bawah, yaitu saat segala sesuatu terlihat
tidak berjalan sesuai dengan yang kamu harapkan. Contohnya adalah saat ini.
Kamu didekati oleh orang yang bersifat jelek, dijauhi teman temanmu, dan sebagainya.
Yang harus kamu lakukan adalah mengambil sisi positif dari setiap kejadian yang
menimpamu.”
“Contohnya, saat kamu didekati Lina,
banyak teman-teman menjauhimu. Hanya ada beberapa dari mereka yang masih
peduli. Dengan begitu, kamu bisa melihat siapakah temanmu yang sesungguhnya.
Teman yang selalu ada untukmu, disaat senang maupun susah.” Aku langsung
teringat kepada Syifa dan Amel. Aku sudah
berbuat jahat kepada mereka. Padahal mereka hanya mencoba menyemangati dan
mencoba membantu menyelesaikan masalahku. Tapi aku malah pergi menjauhi mereka
berdua.
“Tetapi ingat, saat kamu mulai
beranjak menuju posisi atas kembali, jangan melupakan pelajaran yang sudah kamu
dapatkan saat posisimu ada dibawah.” Tambah Ibu, sambil menyodorkan es krim
coklat yang sedari tadi aku acuhkan.
Kini, aku mengerti apa yang dimaksud
oleh Ibu. Beliau ingin aku menjadi dewasa dan bisa menyelesaikan masalahku
sendiri. Aku memeluk Ibu penuh rasa kasih sayang. “Terima kasih, bu.” bisikku. Sekarang aku sudah menemukan solusi dari
masalahku.
***
Esoknya, Lina kembali menghampiriku
dan meminjam PR ku lagi. Tapi sekarang, aku sudah bisa mengikhlaskannya.
Biarkan saja ia mencontek, karena hal itu hanya akan membawa dampak buruk bagi
dirinya sendiri. Suatu saat nanti, dia
akan merasakan akibatnya, cepat ataupun lambat. Yang bisa kulakukan hanyalah
bersabar dan mencoba menegurnya sedikit demi sedikit.
Perlahan-lahan Lina tidak mendekatiku
lagi. Sekarang ia mulai mendekati temanku yang lain. Dia mulai mendekati Silva.
Aku ingin tahu, apa Silva bisa tahan berdekatan dengan Lina. Semoga saja Silva insaf, pikirku.
Aku
juga sudah minta maaf kepada Syifa dan Amel. Sekarang kami jadi makin akrab. Kami
saling melengkapi satu sama lain. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikanku
Ibu dan teman yang sangat baik. Semoga aku bisa melewati berbagai tantangan
yang akan kutemui kelak.
-tamat-
Gimana cerpennya? Hahaha :D
-tamat-
Gimana cerpennya? Hahaha :D

No comments:
Post a Comment